Arsip untuk paradigma kategori

Kenapa jadi malas setelah pacaran sama bule’ ???

Posted in cinta sejati, culture, gaya hidup, komitmen, life, paradigma, renungan, romance, wacana on Desember 2, 2008 by adheenda

Saya perhatikan, kenapa ya kalau sudah pernah pacaran sama bule’ kebanyakan orang rata rata jadi malas pacaran sama orang Indonesia ??.

Saya kira ini semata mata bukan karena faktor fisik melulu, tapi kalau ditanya kenapa kok rata rata pada menjawab bahwa orang Indonesia kurang romantis.

Memangnya romantis itu bagaimana sih? Bukankah romantisme itu  relatif?.

Apa memang betul kebanyakan orang Indonesia kurang romantis?

Yang saya tahu, orang Indonesia jarang banget mengucapkan terima kasih pada pasangannya atas apa yang pasangannya telah lakukan maupun telah berikan padanya. Sedangkan orang bule’  selalu mengucapkan terima kasih atas segala sesuatu yang pasangannya lakukan dan berikan padanya, entah itu dia suka atau tidak tapi dia menghargai usaha dan perbuatan baik pasangannya.

Dan ternyata, menurut penelitian, orang Asia memang paling jarang mengucapkan terima kasih …

Karena rata rata punya alasan bahwa lebih baik dilakukan daripada diucapkan. Tapi betapa seringnya tindakan itu sulit dimengerti apakah itu suatu rasa terimakasih atau ada motivasi lain dalam tindakan tersebut. Hmmmm, apa memang orang Asia lebih suka bahasa bathin?. Ha ha ha, nggak tau juga deh.

Jadi, ungkapan terima kasih juga adalah salah satu romantisme?.

Dan ternyata juga, etnis kita paling jarang mau bilang : ” I love you “, pada pasangannya, sekalipun itu diucapkan dalam bahasanya sendiri. Apalagi kalau sudah lama berhubungan, rata rata pasangan jadi malas bilang ” I love you ” pada pasangannya.

Jadi, mengatakan ” I love you ” juga adalah salah satu romantisme?

Selalu menggandeng pasangan dengan mesra saat berjalan adalah salah satu romantisme? Dan ternyata memang yang sering kita lihat bergandengan tangan ditempat umum di negeri ini adalah pasangan muda yang baru pacaran atau yang masih pengantin baru .

Jadi apa memang benar kita kita ini rata rata tidak romantis?.

Perempuan perempuan tanpa area bebas rokok?

Posted in gaya hidup, life, paradigma, renungan, wacana on Mei 24, 2008 by adheenda

Suatu siang, setelah lewat jam makan, usai menyelesaikan tugas, saya dengan beberapa teman punya waktu luang sejenak untuk minum kopi disuatu cafe di Pondok Indah Mall. Menit menit pertama kita masih bisa menikmati kopi dengan nyaman, tapi beberapa saat kemudian tamu tamu mulai semakin banyak memenuhi cafe tersebut. Sebagian besar, ya kira kira 80% dari pengunjung cafe adalah para perempuan.

Keahadiran mereka sebenarnya bisa saja tidak mengurangi kenyamanan dalam cafe tersebut, karena mereka semua cantik cantik, berpakaian sesuai dengan trend mode saat ini dan suara mereka ngobrol tidak terlalu berisik…. Tapi apa yang membuat kami mulai tidak merasa nyaman atas kehadiran mereka? Tak lain adalah karena mereka semua mulai menyalakan rokok sehingga asap rokok mulai memenuhi cafe tersebut. Dan lucunya, tamu tamu lelaki yang jumlahnya kira kira cuma 20% itu, mereka malahan sama sekali tidak merokok..

Karena ruangan semakin pengap dengan asap rokok, tak lama kemudian kami terpaksa pergi meninggalkan cafe tersebut. Padahal tadinya kami lagi asyik ngobrol santai melepas lelah, tapi karena asap rokok semakin pekat nafas kami jadi sesak dan tentu saja kami tak mau paru paru kami jadi korban para perokok aktif tersebut.

Sambil berjalan meninggalkan cafe saya memandang keseluruh ruang cafe tersebut, dan rasanya sangat tidak enak melihat para perempuan itu merokok tanpa perduli lingkungan sekelilingnya. Kemungkinan besar mereka adalah ibu ibu muda yang tidak bekerja kantor, kelihatannya usia mereka sudah menjelang 30an, gaya pakaian mereka sangat jauh dari gaya pakaian wanita kantoran, dan saat itu antara jam 3 sore, tentu kalau mereka orang kantoran pasti seharusnya pakaian mereka tidak seperti itu seandainya saat itu mereka break dari kantor sebentar untuk nongkrong sebentar di cafe minum kopi.

Seingat saya bukankah tempat umum seperti itu sudah ditetapkan sebagai area bebas asap rokok? Mengingat bahwa tempat umum seperti itu banyak di kunjungi anak anak dan wanita hamil dan banyak lagi orang orang yang tidak ingin nafasnya sesak oleh asap rokok yang bisa mengotori paru paru itu.

Semua perempuan di coffee shop tersebut mengebulkan asap rokok kecuali yang dimeja kami. Dan semua lelaki yang ada disitu sama sekali tidak merokok.

Apakah perempuan perempuan tidak perduli pada area bebas rokok? atau mall tersebut  mengijinkan para perempuan tanpa area bebas rokok? atau karena memang peraturan derah bebas rokok tersebut cuma sekedar peraturan atau slogan yang tak penting untuk selalu di taati?. Sebagai seorang perempuan saya cukup prihatin melihat gejala ini, para perempuan dikota besar begitu menikmati kebebasan sehingga benar benar tidak perduli lagi akan kesehatan dan tata kesopanan orang timur.

Kenapa lelaki punya kecenderungan suka berselingkuh?

Posted in cinta sejati, culture, gaya hidup, komitmen, lelaki, life, love, paradigma, renungan, romance, sex, wacana on Mei 10, 2008 by adheenda

Kenapa ya rata rata lelaki punya kecenderungan suka berselingkuh?, atau paling tidak masih suka tebar pesona sekalipun dia sudah punya kekasih.

Nanti kalau ditanya, apakah dia berselingkuh karena tidak mencintai kekasihnya lagi, maka rata rata menjawab bahwa dia sangat mencintai kekasihnya dan tidak mau meninggalkanya atau melepaskannya.

Apakah ini faktor ego atau faktor naluri penakluk?

Apakah lelaki tidak memikirkan dampak perselingkuhan yang dilakukannya melukai  perasaan orang orang yang memcintainya dengan tulus hati?

Saya tidak mengingkari bahwa belakangan ini, para perempuan juga mulai banyak yang punya kecenderungan suka berselingkuh. Mungkinkah karena ingin membalas sikap lelaki?.

Kalau sudah begini, apakah masih ada cinta sejati dalam hubungan percintaan lelaki dan perempuan?

Saya percaya itu masih ada, walaupun mungkin presentasinya semakin sedikit, tapi pasti masih ada orang yang tidak mau terjebak dalam perangkap hawa nafsu yang rendah.

Jangan terlalu sering melihat acara infotaiment.

Posted in culture, gaya hidup, life, paradigma, personal, renungan, wacana on Maret 7, 2008 by adheenda

Saat ini kita telah memiliki begitu banyak TV swasta, sehingga semakin banyak pilihan untuk di tonton, karena masing-masing TV punya acara andalan masing masing. Tapi yang pasti, hampir semua stasiun TV punya  acara infotaiment yang isinya rata rata bukan berita, tapi semata mata adalah gossip mengenai kehidupan selebriti. Dan belakangan kita bisa melihat dalam acara infotaiment, sebagian besar adalah tentang perceraian dan konflik rumah tangga para selebriti, ada banyak tentang perselingkuhan disana, juga tentang kisah cinta yang “gampangan”, gampang putus dan gampang dapat pengganti yang baru, dan juga tidak ketinggalan tentang gaya hidup selebriti yang kebanyakan mengarah pada konsumerisme dan moral yang kurang terpuji.

 Melihat semua ini, kita bisa bertanya apakah acara infotaiment lebih banyak berdampak positif atau negatif bagi penontonnya?. Saya percaya, akan banyak yang berpendapat bahwa acara infotaiment lebih banyak berdampak negatif daripada positif. Konyolnya, yang banyak menonton acara ini adalah para perempuan dan kaum ibu ibu rumah tangga.

Tidakkah anda sadar, bahwa komentar komentar pembawa acara infotaiment tersebut, perlahan lahan mendorong penonton untuk menjadikan para selebriti menjadi contoh atau tolok ukur tentang hal hal yang terjadi dalam keseharian hidup. Dan juga karena keseringan dengar gossip infotaiment, pikiran anda lebih banyak mengkonsumsi hal yang negative daripada hal yang positive. Infotaiment lebih banyak mengkontaminasi pikiran dan jiwa anda daripada memberikan hal yang positive dan membangun anda menjadi seseorang yang punya energy positive. Karena itu, sebaiknya jangan terlalu sering melihat atau menonton acara infotaiment.

Terkadang juga, infotaiment tersebut sering menggiring kita pada suatu opini yang mereka buat, atau asumsi yang mereka utarakan, sehingga tanpa sadar ahkirnya kita bisa menghakimi seseorang tanpa kita tahu apakah orang tersebut memang benar seperti apa yang kita dengar dari infotaiment. Kalau sudah begini kan urusannya cuma bisa bikin kita jadi jahat dan berdosa….. karena menghakimi orang lain seenaknya.

Orgasme itu enak banget…???.

Posted in cinta sejati, culture, gaya hidup, komitmen, life, love, paradigma, renungan, romance, wacana dengan kaitan (tags) , , on Januari 18, 2008 by adheenda

Orgasme itu enak banget ya… . Tau nggak apa itu orgasme?, kalau tidak tau ya coba cari di buku sex education atau browsing deh di Wikipedia, the free encyclopedia, browsing by www.google.co.id  ketik kalimat ” orgasme”. Selamat mencari…..

Kalau tidak enak dan tidak nikmat maka tidak mungkin orgasme sangat di gandrungi perempuan. Kecuali mungkin untuk perempuan yang belum pernah merasakan orgasme…. [ duh, kasihan deh ]. Tapi sayangnya, banyak lelaki yang tidak perduli apakah pasangannya orgasme atau tidak, ini karena dia adalah lelaki yang tidak sabar dan egoist, mereka ini “malas” menunggu perempuan-nya orgasme. Model lelaki yang begini adalah lelaki yang GSM [gesek sebentar muncrat], makanya kalau ketemu yang model begini, perempuan pasti geregetan dan kasihan banget!!. Perempuan yang punya pengalaman dengan lelaki yang model begini berkata bahwa berhubungan sex dengan lelaki GSM cuma bikin kotor sprei saja, karena baru sebentar sudah muncrat dan sudah dimuncratin gitu…. eh nikmatnya tidak pool lagi!!. Banyak lelaki yang tidak mau perduli apakah perempuannya sudah klimax sampai orgasme atau belum, tanpa disadarinya dia telah membuat pasangannya kurang bahagia dan tidak bisa menikmati hubungan sex yang menyenangkan kedua belah pihak. Padahal kalau perempuan sering mengalami orgasme saat berhubungan sex dia akan merasa sangat bahagia dan semakin sayang pada pasangannya. Memang, paling senang kalau pasangannya adalah lelaki yang punya solidaritas tinggi, alias mengutamakan kebersamaan…. yaitu berusaha untuk bisa sama sama mencapai klimax, dia ejakulasi, perempuannya orgasme. Kalau lelaki bisa tahan lama dalam fore-play, maka perempuannya bisa orgasme berkali kali sebelum si lelaki ejakulasi.  

Hei hei, hal ini yang banyak saya dengar saat share dengan teman teman yang sudah punya  jam terbang yang lama dengan pasangannya. Perlu saya ingatkan, tulisan ini sama sekali  tidak membahas tentang berhubungan sex dengan pasangan selingkuh atau untuk mereka yang doyan prostitusi, tapi ini tentang orang yang setia menikmati sex life dengan pasangannya sendiri.

Ya, orgasme dengan pasangan sendiri sangat baik untuk kesehatan dan kebahagiaan hati…. Karena orgasme dengan bukan pasangannya bisa mengakibatkan penyakit… ya penyakit kelamin [ hati hati HIV !! ], atau penyakit jantung. Keseringan selingkuh lama kelamaan bisa diserang penyakit jantung sebab ada ketakutan dan stress karena telah bercinta dengan orang yang bukan pasangannya. Orgasme yang terjadi karena nafsu saja bukan berdasarkan rasa cinta adalah orgasme yang tidak sehat dan tidak membuat bahagia. Perempuan yang selalu orgasme saat berhubungan sex, wajahnya akan semakin cerah karena hatinya sangat bahagia karena dia merasa betapa pasangannya memperhatikan dan mencintainya.

Tapi intinya, orgasme itu enak banget!!!.

Tidak menikah atau menikah.

Posted in gaya hidup, jomblo, paradigma, renungan, wacana on Desember 19, 2007 by adheenda

Tidak menikah atau menikah sama sama memiliki sisi enak maupun tidak enak. Kalau soal berbahagia, itu tergantung diri sendiri. Apakah karena menikah akan pasti selalu selamanya berbahagia? Apakah karena belum menikah pada usia matang lalu hidup jadi tidak bahagia?. Itu semua tergantung paradigma setiap orang. Ada orang yang ngotot untuk segera menikah karena takut disebut perawan tua, tapi akibatnya banyak yang kemudian jadi janda karena bercerai. Ada yang ingin menikah karena merasa bahwa itu membuatnya menjadi manusia yang lengkap dan bahagia, tapi pada kenyataannya dia kemudian terperangkap pada situasi dan kondisi yang membuatnya tertekan dan tidak bahagia, karena mertua yang cerewet, saudara saudara pasangan hidupnya tidak ramah padanya dan ternyata kemudian dia tahu bahwa pasangannya mau menikah dengannya karena ingin mendapatkan hartanya bukan karena cinta yang tulus.

Kalau tetap melajang pada usia matang, paling yang sering dihadapi adalah pandangan dan komentar yang bikin kuping panas dari orang orang yang sok tahu. Atau keluhan orang tua yang merasa sedih karena merasa belum selesai kewajibannya sebagai orang tua membimbing anaknya masuk pada fase yang berikutnya yaitu berumah tangga. Dan kalau pergi ke pesta pernikahan atau pesta apa saja kadang rasanya gerah juga lihat orang lain punya gandengan sementara diri sendiri datang dengan teman teman satu “geng”. Dan lama kelamaan teman teman mulai menikah dan akhirnya teman yang masih melajang semakin sedikit. Nah, disinilah mulai terjadi konflik dengan diri sendiri….

Kalau kamu masih melajang karena trauma dan karena patah hati yang kronis maka akibatnya kamu akan jadi orang yang jutek dan agak meng-asingkan diri, yah jadi seperti “alien” begitu…

Tapi kalau kamu masih melajang karena pilihan dan karena berhati hati dalam memilih pasangan hidup, maka kamu bisa lebih menikmati alur kehidupan dari hari kehari, dan bersikap tetap ramah pada orang lain yang mempertanyakan kenapa kamu masih melajang padahal usia sudah sekian dll dll….

Beberapa waktu yang lalu saya mengunjungi kota kelahiran saya karena ada pesta pernikahan saudara. Lebih dari sepuluh tahun saya tidak bertemu dengan teman teman semasa SMA, maka saat kepulangan itu saya manfaatkan untuk reuni. Tentu saja 90% teman teman SMA sudah pada menikah dan sudah punya anak yang besar besar. Tapi pada kenyataannya banyak diantara mereka mengaku bahwa mereka tidak bahagia dan wajah mereka sangat tua…. Saya jadi seperti bertemu tante tante saya, padahal mereka adalah teman SMA yang seumur saya. Yah memang sih, saya selalu disangka 10 tahun lebih muda dari umur saya…..

Malah semua orang bilang kalau saya jauh lebih cantik dan menarik dari pada waktu saya masih di SMA dulu.

Saya tidak bilang kalau tidak menikah lebih baik dari pada menikah; menikah itu sangat baik kalau memang pada waktu yang tepat dan bertemu orang yang tepat. Tidak menikah juga baik kalau memang bisa dinikmati dengan hati tulus dan tidak mengeluh serta tidak kecewa. Saya ingin menikah pada suatu hari nanti, tapi saya tidak mau menikah karena malu jadi perawan tua…. No way!!!! Saya mau menikah kalau saya memang telah menemukan orang yang tepat untuk saya. Karena saya merasa bahagia saat ini walau belum menikah, dan saya ingin lebih berbahagia lagi saat saya masuk dalam masa pernikahan.

Bahagia adalah pilihan.

Posted in paradigma, renungan, wacana on Desember 3, 2007 by adheenda

Semua orang ingin bahagia. Ya, siapapun dia, bagaimanapun dia,tidak ada orang yang menginginkan hidupnya tidak bahagia. Tapi pada kenyataannya banyak sekali orang yang merasa tidak bahagia dalam menjalani hidupnya.

Kebahagiaan bukanlah karena suatu kondisi dan keadaan yang ada, tapi kebahagiaan itu adalah suatu pilihan.

Karena kalau kebahagiaan itu bukan suatu pilihan, maka kita akan sulit sekali mendapatkan kebahagiaan yang sempurna dalam hidup kita. Sebab, selama kita hidup dalam dunia ini, persoalan akan datang silih berganti, keadaan tak terduga bisa terjadi kapan saja dan kegagalan adalah hal yang sering juga kita temui.

Apakah benar kita akan bahagia kalau kita mendapatkan semua yang kita inginkan dan impikan? Mungkin pada awalnya kita merasa sangat bahagia, gembira dan puas….. Tapi selang beberapa waktu kemudian, ada saja persoalan dan masalah akan timbul… karena memang begitulah kenyataan yangharus kita hadapi kalau kita hidup. Maka kalau kebahagiaan itu adalah tergantung karena situasi dan kondisi yang kita terima dan hadapi maka memang akan sulit kita mendapatkan kebahagiaan yang langgeng.

Kebahagiaan adalah pilihan! Itu akan menjadi pilihan yang akan kita dapati dari sekian pilihan dalam setiap saat kehidupan kita. Ya, setiap saat dalam menghadapi keadaan yang terjadi ada beberapa pilihan bagi kita; kecewa?, marah?, sedih?, tidak perduli?, putus asa?, mengomel? atau….. tidak mau kecewa?, selalu bersyukur?, berusaha tetap sabar dan tersenyum?, berpikiran positif?…. pilihan pilihan ini akan mempengaruhi hati kita merasa bahagia atau tidak.

Orang yang suka mengeluh dan mengomel cenderung sulit merasa berbahagia dalam waktu yang lama. Begitu juga orang yang gampang berpikiran negatif serta tidak sabar…..

Jadi, menurut saya, kebahagiaan itu adalah pilihan. Setiap orang bisa memilih untuk dirinya sendiri, apakah dia mau bahagia atau tidak. Kebahagiaan itu ada didalam diri kita sendiri bukan berasal dari yang ada diluar diri kita; kebahagiaan bukan karena orang lain yang kita cintai, bukan karena harta kekayaan yang bisa kita miliki, bukan karena lingkungan dan situasi yang ada disekitar.

Tetap single dalam usia 40an?

Posted in paradigma, renungan, wacana on Desember 1, 2007 by adheenda

Saya mulai menulis catatan disini karena mempunyai tujuan yaitu supaya banyak hal yang saya ungkapkan disini bisa menjadi refrensi hidup dari siapapun yang membacanya. Terutama untuk perempuan yang masih hidup sendiri, karena banyak hal yang orang lain sulit mengerti akan persoalan persoalan yang dialami perempuan single pada masa kini.

Saya sering bertemu dengan perempuan single pada usia diatas 30 tahun atau diatas 40 tahun, banyak diantara mereka yang merasa lumayan malu karena status mereka yang masih single. Hidup single pada saat usia sudah melewati 35 tahun, 40 tahun; pada masa sekarang keadaan ini bukanlah suatu aib sehingga tidak perlu merasa malu. Menurut saya hidup single pada usia matang adalah suatu pengalaman luar biasa, pengalaman ini lebih baik di nikmati dengan senyum dan tawa dari pada menjalaninya dengan wajah tertunduk malu dan murung.